Dosen Menulis Buku Oleh Agung Kuswantoro

Setiap dosen hendaknya memiliki kompetensi. Kompetensi ini tidak semua orang memilikinya. Kompetensi yang dimiliki dosen disampaikan pada mata kuliah yang ia ampu. Setiap mata kuliah yang ia pegang, menjadi wadah untuk mendemokan ilmu-ilmu dan pengalamannya. Gagasan-gagasannya ia transfer dalam mata kuliah yang diampunya.
Setiap dosen pasti menulis. Setiap pertemuan pasti ada ide yang disampaikan,minimal dalam bentuk ilmu. Setiap akan mengajar,paling tidak dosen menyiapkan materi yang disampaikan melalui pembuatan rencana pembelajaran, bahan ajar, dan pengalaman unik saat mengajar (special moment).
Berdasarkan pengalaman saat mengajar, saya selalu membuat materi dalam bentuk word, kemudian saya update status materi tersebut di Facebook. Selain Facebook, materi juga saya terbitkan di Kompasiana dan blog UNNES, serta blog pribadi. Materi tersebut merupakan materi awal yang penuh dengan konsep dasar. Materi-materi tersebut belum memasuki tahap pengembangan materi-materiatau contoh-contohnya.
Mengapa menulis diword, tidak membuat powerpoint? Karena menulis diword membuat kita dapatbebas menyampaikan ide-ide dari konsep yang telah dibaca. Setelah itu, cari point-point yang akan disampaikan sebagai bahan powerpoint. Namanya saja powerpoint, makna kekuatan ada di point atau kata-kata inti dari apa yang disampaikan.
Kebiasaan beberapa dosen biasanya adalah membuat powerpoint dari buku yang telah dibaca. Kemudian,materi tersebut diberi highlight mengenai bagian-bagian mana yang akan dimasukkan dalam Powerpoint.
Jika keadaannya seperti itu, maka ia hanya menyalurkan konsep atas penulis buku tersebut. Menurut saya, seorang dosen mengembangkan konsep dari penulis buku yang ia baca. Atau memberi contoh-contoh atas konsep penulis buku.
Lantas, dimana kompetensi atau keahlian dosen tersebut jika ia hanya memindahkan tulisan ke powerpoint? Nah, inilah pentingnya menulis di word sebagai media (kertas) yang bebas untuk kita tulis atas konsep yang telah dibaca. Word memberikan kebebasan berpendapat dari definisi-definisi yang ia pahami, baik definisi secara bahasa atau makna, atau membuat definisi operasional dari para ahli.
Jika kumpulan setiap materi pada setiap pertemuan dijadikan satu,pasti bisa menjadi buku. Menurut penegalaman penulis,melakukan hal seperti itu ringan. Tidak ada target menulis buku, namun menulis setiap akan mengajar. Tercatat sudah ada beberapa buku yang berhasil diterbitkan oleh penerbit Salemba Empat, yaitu Pendidikan Administrasi Perkantoran Berbasis Komputer; Hubungan Manusia (Humas): Konsep dan Praktik; Strategi Belajar Mengajar; dan Agung Bercerita Arsip: Praktik-Praktik Manajemen Kearsipan.
Jika tidak diterbitkan oleh penerbit besar, maka dapat menjadi bahan ajar saat penulis mengampu pada semester berikutnya. Karena tidak ada yang percuma dalam menulis, semua pasti akan digunakan, terlebih bagi dosen. Dengan menulis, seorang dosen imemiliki massa atau mahasiswa yang akan belajar dengannya.
Oleh karena itu, yuk, kita menulis dari hal yang sederhana. Menulislah dari apa yang akan kita lakukan. Menulis atas materi yang akan disampaikan pada setiap pertemuan. Buatlah catatan kecil dan kembangkan konsep yang telah dibaca, serta berilah ilustrasi yang sederhana agar mahasiswa mudah memahami.

Semarang, 16 November 2016
Agung Kuswantoro

0 Comments

Berikan Komentar

Login Sebelum Anda Komentar